Puisi: Sepucuk Surat Pengantar Tidur

Puisi: Sepucuk Surat
Ilustrasi. Fixabay.com

Puisi: Sepucuk Surat Pengantar Tidur

Tujuh belas tahun..
usia yang sangat kunanti
hatiku berdebar-debar, kupikir aku sudah dewasa
kupikir aku bisa menyambut cinta dengan tangan
terbuka dan ramah..

Tujuh belas tahun.
Entah kumaknai dengan cara bagaimana
bercerita kepada seluruh dunia..
kepada wajah-wajah asing
bahwa aku naksir ini dan itu
tanpa tahu siapa kuajak bicara.

Lelaki itu bilang “kau masih polos”
dia mengatakan itu sambil tersenyum
dan menatap lantai..
Aku, dengan rok panjang biru tua, dan rambut
dihiasi penjepit biru muda
hanya mendengarkan saja..
rasanya aku tidak benar-benar paham
namun melihatnya tersenyum
aku ikut senyum..

Jeda.
Angin sepoi berhembus
aku bertanya-tanya tentang hatiku
lalu mataku basah..
muncul sejumlah pertanyaan
yang tak sanggup kujawab.

Kupikir,
Aku harus memulai dari langkah yang kecil
kusiapkan hati
Insya Allah semua akan baik saja

Angin sepoi berhembus
aku mulai diam
dan mencoba bergerak

Tapi sakit itu tidak terperikan
lukanya tak juga terurai
bagai ditembakkan pemanah
paling profesional
tepat di hatiku
hatiku yang paling dalam

Angin berhembus
Orang-orang tertawa
hingga kakinya bergerak-gerak
ramai berbicara
seperti segalanya lelucon

Anasirku..
hal-hal yang telah kutabur
dihapuskan oleh hujan

Tetapi wajah-wajah asing
diam
merenung
bagai tak pernah ada suara

Namun seperti kudengar berkata
Kami setia kepada orang-orang yang setia

Tak apa.
Sekarang aku diam.

#Usia 20 tahun