Pupuk Cair Organik Olahan Kelompok Tani Lemo Baru, dari Urine Hewan

Pupuk cair organik dari urin hewan ternak, olahan kelopok tani kakao-ternak terintegrasi
Pupuk cair organik dari urin hewan ternak, olahan kelopok tani kakao-ternak terintegrasi

Lemo Baru | Kelompok tani kakao-ternak terintegrasi Dusun Lemo Baru, Desa Kuajang, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, memproduksi pupuk cair organik dari urine hewan ternak.

Pemanfaatan kotoran ternak itu, menjadi alternatif utama para petani Dusun Lemo Baru dengan mengolah Urine hewan ternak sapi dan kambing menjadi pupuk cair organik.

Tingginya harga pupuk yang terus meningkat di pasaran, menjadi alasan para petani Lemo Baru membuat terobasan baru dengan memproduksi pupuk organik hasil olahan mereka sendiri.

Urin hewan yang tadinya tak bernilai. Setelah diolah, urine hewan tersebut pun menjadi bernilai rupiah. Hal ini juga menjadi solusi untuk meminimalisir banyaknya penggunaan pupuk kimia. Selain itu, hasil olahan berupa pupuk cair organik tersebut, mereka lalu menjualnya kepada para petani.

“Dari pada dibuang begitu saja kencingnya (Urin Sapi dan Kambing), mending kita manfaatkan jadi usaha. Dari pada beli pupuk kimia yang mahal, lebih baik bikin sendiri”. Ujar Anas (51) kepada kontributor pattae.com saat berkunjung ke lokasi pengolahan pupuk organik, Minggu 10/11/2019.

Setiap botol ukuran 1 liter, pupuk cair organik di jual dengan harga 25.000 rupiah. Sekarang ini, penjualan pupuk cair organik mereka, tidak hanya dipasarkan di desa Kuajang saja, tetapi juga dijualnya hingga luar desa.

Selain itu, kelompok tani kakao-ternak terintegrasi memberikan informasi tentang metode pembuatan pupuk cair organik dari urine hewan.

Metode Pembuatan Pupuk Cair Organik

Cara pengelolaan pupuk cair organik ini tentunya menempuh beberapa tahapan hingga urine hewan tersebut menjadi suatu pupuk tanaman yang berguna bagi kalangan petani.

Tahapan pertama yaitu dengan mencampurkan urin sapi, atau kambing, dengan bakteri Laktobasilus, serta beberapa bakteri-bakteri lainnya. Dari hasil pencampuran itu, kemudian dilakukan permentasi yang cukup lama yaitu 2 bulan.

Hasil produksi kelompok tani tersebut, untuk sekali pengolahan, menghasilkan 200 botol dan biasanya, habis laku terjual dalam waktu 3 bulan.

“1 kali jadi itu, sampai 200 jergen dan itu bisa habis dijual sampai 3 bulan“. Lanjut salah seorang pengelola Kelompok Tani Kakao-Ternak Terintegrasi itu.

Manfaat dari Pupuk cair Organik ini sebagai penyubur struktur tanaman. Adapun cara penggunaan dari pupuk cair ini bisa langsung disiramkan ke tanah juga bisa dicampur dengan air jika ingin disemprot-kan ke tanaman.

Kelompok Tani Kakao-Ternak Terintegrasi yang terdiri dari beberapa anggota, selain mengelola Pupuk Cair Organik mereka juga mengelola usaha pembuatan Kue Beng-Beng yang terbuat dari Kakao. Mereka juga memproduksi Madu Trigona. Kelompok Tani ini diketahui terbentuk sejak tahun 2014 hingga kini.[pattae.com]

Penulis/Kontributor : Aulia*
Editor: Bustamin TaTo*

Diusia yang Baru 18 Tahun, Putra Pattae Ini Telah Menjabat Sebagai CEO