Refleksi Hari Bumi Ditengah Pandemi

Bumi dan pandemi (Gambar: Holamigo.id)
Bumi dan pandemi (Gambar: Holamigo.id)

Kurang lebih empat bulan sejak ditemukan di Pasar Ikan Huanan, Kota Wuhan, China, Virus Corona atau Covid-19 telah mempengaruhi kebiasaan hidup masyarakat dan kondisi alami bumi secara drastis. Tepatnya desember 2019 virus ini mulai menyebar dan menjadi pandemi. Kebijakan lockdown dan pembatasan social (physical Distancing) dibeberapa Negara maju berimbas pada berhentinya pergerakan masayarakat dunia, utamanya di kota-kota besar yang padat aktivitas. Akibatnya terjadi perubahan alam yang cenderung positif ditengah dunia yang sedang berjibaku menghadapi pandemi dan krisis global yang mengancam seluruh pejuru negeri.

“Pandemi Menyembuhkan Bumi” Mengutip hasil penelitian dari Royal Observatory Of Belgium bahwa terjadi penurunan dengungan getaran di kerak bumi (seismic), ini diyakini sebagai dampak dari lockdown-nya beberapa kota tersibuk didunia, sehingga berdampak pada jaringan transportasi dan aktivitas manusia yang terhenti. Selain itu, pembatasan pergerakan melalui kebijakan Penjarakan fisik (Physical Distancing) telah menurunkan kontribusi gas emisi di dunia. Dimana transportasi telah berkontribusi sebesar 72% pada emisi gas rumah kaca. [1]

Pendemi Corona (Covid-19) memang bukanlah yang pertama bagi dunia. Dalam sejarah tercatat, virus merupakan salah satu bencana yang cukup banyak menelan korban. Pada abad 14, Eropa kehilangan 60% populasinya akibat wabah Black Death. [2] Selain Black Death, Virus SARS yang menjangkit 8.069 jiwa dan menewaskan sebanyak 775 jiwa pada tahun 2003 dan Virus MERS pada tahun 2012 dengan angka kematian 858 jiwa di seluruh dunia. [3]

Kedua virus ini menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan kematian. Hingga kini telah terkonfirmasi sebanyak 210 Negara telah terjangkit oleh virus yang juga dikenal dengan nama SARS Cov-2. Jumlah korban yang telah positif adalah 2.418.845 juta jiwa. [4]

Di Indonesia sendiri Covid-19 menjadi momok bagi masyarakat. Merebaknya Covid-19 dengan begitu cepat tidak dapat terhidarkan. Kebijakan Penjarakan Fisik (Phisical Distancing), Pembatasan Social Skala Besar hingga Karantina Wilayah telah diberlakukan untuk menahan laju penularannya. Namun sampai hari ini, penderita terus meningkat dengan angka kematian yang juga tidak sedikit. Kabar baik justru datang dari pasien sembuh yang meningkat hingga melampaui angka pasien yang meninggal.

Perubahan Alam

Adapun demikian, pengaruhnya terhadap Kebiasaan dan kondisi masyarakat kini kian terasa. Mulai dari ekonomi, social dan lingkungan alam. Penerapan kebijakan pemerintah yang menghimbau masayarakat berdiam diri di rumah dan penjarakan fisik diluar rumah, nyatanya telah merubah kondisi lingkungan.

Aktivitas perkantoran, perdagangan, pendidikan, transportasi serta industri dan bisnis yang dibatasi, turut berdampak pada kualitas lingkungan. Di kota-kota besar yang menjadi episentrum penyebaran virus misalnya, jalan-jalan yang biasanya padat-merayap hingga macet, kini terlihat sepi dan lengang. Hal yang paling nyata tercatat oleh situs Mongabay bahwa kualitas udara Jakarta membaik sejak 28 tahun terakhir dengan nilai PM 2,5 rara-rata sebesar 18,46µg/m 3 . Keadaan ini memperlihatkan adanya penurunan emisi yang cukup drastis sebagai akibat dari kebijakan PSBB. [5]

Refleksi Hari Bumi

Peringatan hari bumi tahun ini dapat dipastikan tak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Sebab virus Corona yang merebak sehingga kegiatan seremonial juga tidak dilaksanakan. Lebih dari itu, merujuk pada subtansi perayaan hari bumi adalah sebuah bentuk apresiasi, kampanye, serta edukasi sosial pada masayarakat dalam memperbaiki kualitas hidup melaui seruan perbaikan kualitas lingkungan yang konsisten. Hari bumi yang diperingati setiap 22 April, dimaknai sebagai suatu gerakan dalam memupuk kesadaran kolektif serta hasrat individual untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan kata lain tujuan akhirnya adalah tercipta gerakan perubahan gaya hidup yang berbasis pada perbaikan kulitas lingkungan.

Secara Utopis Marfai menggambarkan, “Seandainya kita hidup di bumi dengan tidak ada polusi udara melebihi ambang batas, pencemaran sumber air, eksploitasi hutan dan sumber daya mineral secara berlebihan maka niscaya kualitas hidup manusia akan lebih baik“. [6] Pengaandaian yang digambarkan bahkan begitu kontras dengan apa yang terjadi saat ini.

Mulai dari kondisi udara, air, tanah serta sumber daya alam yang lain makin terdegradasi akibat eksploitasi berlebihan. Ekploitasi berlebihan itu sejenak terjeda oleh pandemi yang belakangan terjadi. Secara simultan, industri-industri pencemar lingkungan banyak yang berhenti beroperasi, aktivitas transportasi yang menunjang pergerakan mulai menurun. Oleh karenanya sebagai konsekuensi logis dari penjarakan fisik, Covid-19 telah menjadi jalan bagi tercapainya cita-cita masyarakat yang sadar lingkungan dengan meminimalisir pencemaran walaupun dengan situasi yang tidak ideal ditengah pandemik ini.

Di sisi yang lain, berdasarkan analisa, sejumlah penyakit baru muncul dikontibusi oleh aktivitas yang dilakukan manusia terhadap alam seperti perambahan hutan dan perubahan demografi manusia. Di Australia, wabah Hendra Virus ternyata diakibatkan oleh sub-urbanisasi, dimana habitat manusia yang kian mendekat dengan habitat alami satwa liar yang pada akhirnya memikat ekspansi kelelawar penghuni hutan ke permukiman penduduk.

Studi lain misalnya, peningkatan deforestasi hutan sebesar 4 % di Amazon, inheren terhadap peningkatan kasus malaria sebesar 50 persen. [7] Namun, untuk kasus Covid-19, perlu kajian mendalam agar dapat memastikan pemicu kemunculannya. Dugaan sementara para ahli bahwa covid-19 ini berasal dari kelelawar dan trenggiling. Dimana trenggiling merupakan salah satu komoditas yang banyak diperjualbelikan secara illegal sebagai obat. Kuat dugaan ini berkontribusi pada menularnya virus ini pada manusia.

Tinjauan filosofis yang dikemukakan Arne Naes sebagai wacana serta solusi bagi menurunnya kualitas kehidupan adalah ”Simple in means but rich in ends”. [8] Konsep ini dimaknai sebagai bentuk pola pikir baru mengenai gaya hidup yang Sederhana dalam sarana namun kaya akan tujuan. Dengan kata lain pencapaian kebahagian dalam arti yang sesungguhnya berorientasi pada kualitas kehidupan dan melepas standar material sebagi gaya hidup modern. Kondisi ideal yang dimaksud bisa jadi hampir sama dengan keadaan masyarakat dunia belakangan ini.

Stay At Home (tinggal dirumah) sampai Work From Home (bekerja dari rumah) telah mengurangi aktivitas berlebihan masyarakat. Bahkan ada yang berhenti bekerja dan bertahan hidup dengan menyediakan kebutuhan pangan dengan bertani serta beternak secara mandiri. Melakukan aktivitas sehari-hari dengan prinsip ramah lingkungan yang kemungkinan baru dimulai setelah Covid-19 Merebak.

Keadaan seperti ini, jika secara konsisten dan berkala diberlakukan meskipun pandemi Corona berakhir. Maka setidaknya Kualitas lingkungan yang membaik ini dapat dipertahankan. Dengan demikian, bukan berarti kondisi lingkungan yang kian membaik membuat kita mengenyampingkan bencana kemanusiaan akibat pandemi saat ini.

Lebih dari itu, fenomena pandemi Corona seharusnya memberi hikmah bagi kita tentang gaya hidup yang ideal, sadar terhadap lingkungan alam serta peduli pada lingkungan sosial. Yang lebih penting bahwa bumi harus diberi waktu untuk sejenak beristirahat dari eksploitasi manusia dan sesaat membersihkan diri dari hiruk pikuk aktivitas penghuninya.[*/]

Selamat Hari Bumi..!
Mari berharap pandemi segera pergi, dan bumi lekas pulih kembali