Semalam di Puncak Pengungsian, Meli Teguk Cerita Uwa’ Salman

Puncak Pengungsian
Puncak Pengungsian

Rasa berat ingin meninggalkan Luwu Utara, padahal sudah 3 hari tiga malam kami ikut rombongan aliansi komunitas dari Polewali Mandar berada di Desa Baloli, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara.

Kawan ku Ali dari Ruas Pelajar Merdeka berbisik, “Kak sepertinya hati ini belum siap meninggalkan Luwu Utara, sebelum mengunjungi beberapa titik lagi, aih belumpi ada rasanya tongang kak”.

Gerak bola mata Nendra dari Gerakan Pemuda Peduli pun mengisyaratkan pula bahwa dia masih ingin tinggal, aku melirik Yuyu dan Ayu yang tepat berada di samping kiri kananku. Ah, ternyata dia pun ingin tinggal.

Maka segeralah kami buat lingkaran kecil, di tengah-tengah beberapa kawan-kawan yang sibuk packing, berkemas-kemas mandi untuk pulang ke Polewali Mandar.

Jadi baiklah kami sepakat berlima tinggal lagi yah, dengan titik target dua hari ke depan, agenda pun kami susun, esok kita camp semalam di puncak pengungsian Desa Meli.

Lusa kita ikut rombongan kawan-kawan HMK (Himpunan Mahasiswa Kreatif) Universitas Muhammadiyah Palopo menuju titik Desa Maipi, salah satu desa terdampak banjir di Luwu Utara.

Aku pun serasa bertambah energik. Sebab, keempat kawanku ini, ternyata masih ingin tinggal.

“Ah, kita namakan saja petualangan kita ini sebagai relawan Oi Oi. Belum ada rasanya kakak, jika belum mengunjungi beberapa titik lagi,” ungkap Ayu .

Ali dan Yuyu pun turut mengiyakan. “Jadi kita sepakat relawan Oi Oi, tinggal dua malam lagi,” tegas Nendra.

Setelah melepas kepergian kawan-kawan rombongan balik ke Polman, kami berlima pun bergegas menyiapkan perlengkapan seadanya untuk memulai rute ngecamp di tempat pengungsian Desa Meli.

Bermodalkan dua tenda, kami pun berangkat menuju puncak pengungsian Desa Meli, diantar oleh Akamsi (Anak Kampung Sini) Desa Baloli, Kecamatan Masamba.