Setoran Sepuluh Ayat dari Si Dila

Setoran Sepuluh Ayat dari Si Dila
Setoran Sepuluh Ayat dari Si Dila

Semarak lagu Indonesia raya terlantun merdu usai upacara bendera di MTs Annaadir Beluak. Bel pertanda jadwal mata pelajaran pertama dimulai . Aku mengarah ke kelas 7 B, senyuman manis menjadi penghias semangat, buku mata pelajaran dan Al-Qur’an beserta Iqra sudah siap di atas meja.

Sebagai guru yang mengampu mata pelajaran bahasa Indonesia saya terlibat rutinitas khusus sebelum mata pelajaran dimulai. Rutinitas ini dimulai dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Adakalanya bacaan ayat per juz, surah pendek, maupun bacaan pada Iqra. Rutinitas ini sengaja diprogramkan sebagai cara untuk menghidupkan tradisi membaca Al-Quran di MTs Annaadir Beluak.

Tentu guru-guru menyesuaikan tingkat kemampuan siswa berdasarkan level bacaannya. Sepuluh ayat dari Si Dila tentu menjadi pemantik awal, memotivasi teman-temannya untuk siap-siap dipanggil menyetor ayat-ayat yang ingin didarras/dilantunkan.

Lain halnya Si Dila, Si Reza pun tidak kalah semangat maju ke depan untuk menyetor bacaan, Si Reza dengan penuh khidmat melantunkan Iqra 1 tepat di halaman ke 5. Meski Si Reza terbilang siswa yang agak super aktif gerak kiri dan kanan, siswa yang selalu meramaikan kelas dengan tingkah “kocak dan lucu”.

Saat aku memanggil Si Reza maju ke depan dengan khusuk menyelami bacaan Iqra mengeja huruf hijaiyah dengan penuh perjuangan. Terkadang panjang dibuat pendek kadang pula sebaliknya pendek dibuat panjang, namun membetulkan adalah tugas guru.

Yah sesekali Si Reza juga bacaannya sudah tepat. Si Reza berhasil membawaku ke masa lalu, saat diriku berjuang terbata-bata mengeja huruf hijaiyah. Sosok guru mengajiku pun terbayang. “Alfatihah guru, kini aku berada pada posisi guru buat murid-muridku” ucapku dalam hati.

Di tengah geliat maraknya kasus anak, kejahatan seksual dan pernikahan usia anak, sesekali aku menyeka kornea mata yang lembab, melihat begitu pilunya angka kasus anak menaik grafiknya bagaikan anak tangga.

Siapa yang patut disalahkan? Di lembaga pendidikan formal, pengasuhan keluarga dan pengaruh pola hidup juga sangat berperan memengaruhi perilaku anak.

Saatnya merefleksi sudahkah kita memenuhi hak-hak anak?Jika merasa belum baiknya kita memulainya, tanpa harus menjustifikasi berlebih saat anak masih dalam proses menumbuh dan dirangsang untuk tumbuh.

Kembali kuselami sepuluh ayat dari Si Dila dan setoran iqra dari Si Reza, menjadikan diriku juga merefleksi untuk senantiasa membenahi bacaan-bacaan ngajiku yang terkadang masih belepotan pula, meski aku membidangi mata pelajaran umum. Jurus jitu ngaji pun harus aku kuasai, sebab setiap pagi di jadwal pelajaran pertama, sudah ketentuan aku harus memulainya dengan mengaji bareng siswa, sebelum masuk materi Bahasa Indonesia.

Ngajar di Madrasah ada sentuhan agamis, aku pun merasakan efek positif, menjadi guru sekaligus murid di tengah guru-guru yang memiliki kedalaman ilmu agama.

Di penghujung materi Bahasa Indonesia aku mengajak siswa-siswi menuliskan narasi tentang apa tujuan kita mengaji? Beragam jawaban aku temukan, ada yang menuliskan tentang tujuan agar mendapat nilai bagus di raport.

Ada yang bertujuan agar mampu tajam bacaan Al-Qur’annya, ada yang menuliskan ingin masuk syurga, ada pula yang menuliskan agar mampu menjalankan perintah-perintah agama yang dituliskan dalam Al-Qur’an, serta ada pula yang menuliskan agar batin bisa tenang dengan khusuk menyelami ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Terima kasih Si Dila dan Si Reza beserta seluruh siswa-siswiku kelas 7B, kalian adalah guru-guru kehidupan buatku. Sampai jumpa besok di jadwal pelajaran pertama kita akan kembali mentafakkurri 10 ayat dan berselancar lewat tajwid-tajwid di buku Iqra, sehingga lafadz panjang bisa dipanjangkan dan lafadz pendek pun dipendekkan, bukan sebaliknya.

Di awal mulai aku menjelaskan materi Bahasa Indonesia, Si Dila pun menghampiriku dengan berkata “Bu besok tunggu ya aku setor lagi sepuluh ayat,” ungkap Si Dila dengan penuh energik dan memekarkan senyuman manisnya.

Nampak di sudut ruang kelas Si Reza pun menatapku dengan perlahan berkata “Bu besok saya akan mengeja Iqra dengan baik dan benar,” ungkap Si Reza.

Namanya juga sekolah, namanya juga proses belajar, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Mari sekolah di Madrasah, Madrasah lebih baik Madrasah.[*]