Terjadi Abrasi Pantai, Warga Dusun Tete Desak Pemerintah Bangun Tanggul

Abrasi Pantai
Kondisi Pantai Tete Desa Paku

Abrasi parah terjadi di muara pantai Dusun Tete Desa Paku, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat.

Penyusutan pantai tersebut mengakibatkan, ratusan meter daratan di wilayah tersebut telah berpindah ke Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan. Warga sekitar pun menjadi kahwatir atas kejadian ini.

Kepala Desa Paku, Syarifuddin, menyuarakan kekhawatirannya dengan situasi ini. Ia menyatakan bahwa tanpa adanya tanggul, abrasi akan terus menggerus daratan Dusun Tete, mengancam tambak ikan dan pemukiman warga yang hanya berjarak beberapa meter dari garis abrasi.

“Tahun 2021, daerah ini pernah dimasukkan dalam program pariwisata karena banyak pohon jambu mete dan mangrove yang ditanam. Namun, sekarang hanya tersisa sedikit karena tergerus banjir dalam semalam,” jelas Syarifuddin saat mengunjungi lokasi abrasi, Senin (1/7/2024).

Selaku kepala desa, Syarifuddin mendesak pemerintah untuk segera membangun tanggul penahan ombak sepanjang satu kilometer di pantai Tete.

Jika tidak segera ditangani, pemukiman warga yang terdiri dari 100 rumah dengan lebih dari 500 jiwa penduduk, bisa lenyap ditelan laut. Prediksi banjir pada bulan Desember mendatang membuat ancaman ini semakin nyata.

Saharuddin, seorang warga Desa Paku, mengungkapkan bahwa abrasi telah mengikis daratan Dusun Tete selama beberapa tahun terakhir. Dampak terparah dalam dua tahun terakhir, mengakibatkan luas tambak ikan yang awalnya lima hektare kini hanya tersisa satu hektare.

“Ratusan meter daratan telah berpindah ke Pinrang. Sebagian daratan yang dulunya bagian dari Dusun Tete, dan pernah menjadi lokasi acara motor trail oleh Bupati Polman. Kini, area tersebut sudah berada di wilayah Pinrang,” ujar Saharuddin sambil menunjuk area yang terkena abrasi.

Warga Desa Paku sangat berharap pemerintah segera memberikan bantuan berupa tanggul batu gajah untuk mencegah abrasi lebih lanjut.

Saharuddin menegaskan bahwa fondasi biasa tidak akan cukup kuat menahan ombak, terutama saat pasang tinggi yang biasanya terjadi pada bulan Desember.[*]