Tidak Transparan, PC IMM Kota Makassar Dinilai Tak Paham Mekanisme Pembentukan KORKOM

IMM Kota Makassar
Rifaldi Gunawan (Ketua Umum Pikom IMM Faperta Unismuh Makassar)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai salah satu Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah, dengan segala rumusan ideologisnya baik itu Trilogi maupun Tri-Kompetensi Dasar yang niscaya dimiliki setiap kader. Dengan rumusan ideologi itulah, IMM menjadi organisasi yang ideal untuk proses pengembangan basis soft skill dan ideologis Muhammadiyah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah telah menjadi organisasi yang diperhitungkan bukan hanya karena kuantitas kader. Namun, juga kualitas yang dimiliki kader serta didukung kaidah organisasi dan tertib administrasi.
Baik secara yuridis, historis, filosofis IMM dianggap organisasi yang ideal dengan keparipurnaannya.

Pimpinan Cabang IMM Kota Makassar yang merupakan salah satu PC IMM terbesar yang ada di kawasan Timur maupun Indonesia, kini menaungi 25 komisariat. Sehingga, dalam memudahkan pimpinan cabang dalam mengawal secara utuh, pimpinan cabang membentuk tiga koordinator komisariat (KORKOM) yang terbagi pada tiap perguruan tinggi.

Koordinator Komisariat universitas Muhammadiyah Makassar mengkoordinir 8 komisariat, Koordinator Universitas Negeri Makassar menaungi 6 komisariat. Koordinator politeknik kesehatan Muhammadiyah Makassar (AVICENNA) menaungi 6 komisariat, Sedangkan ada beberapa Non-KORKOM.

Koordinator Komisariat sendiri ialah lembaga fungsional-struktural sehingga KORKOM adalah representasi atau perpanjangan tangan Pimpinan Cabang dalam membantu mengkoordinir jalannya komisariat.
Penunjukan ketua Korkom dipilih melalui rapat internal pengurus pimpinan cabang namun yang harus diperhatikan juga adalah koordinasi dengan komisariat yang dinaungi oleh KORKOM setempat.
Dalam Tanfidz IMM BAB 3 Susunan organisasi pasal 9 Cabang poin 4. Pimpinan cabang dapat membentuk Koordinator Komisariat(KORKOM) dengan mengadakan rapat pleno yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2\3 (dua pertiga) unsur pimpinan cabang dan 2 (dua) orang perwakilan pimpinan komisariat.

Dalam pembentukan KORKOM universitas Muhammadiyah Makassar untuk periode Pimpinan cabang kota Makassar periode 2021-2022 tidak sejalan dengan pedoman organisasi. Sehingga penunjukan ketua KORKOM Universitas Muhammadiyah Makassar tidak sesuai dengan kaidah organisasi.

Pimpinan komisariat fakultas pertanian, Pimpinan komisariat Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan dan Pimpinan komisariat fakultas Teknik merasa tidak pernah di undang untuk berpartisipasi dalam rapat pleno penentuan ketua KORKOM Universitas Muhammadiyah Makassar. Sehingga tiga komisariat menolak keras akan penunjukan secara sepihak ketua KORKOM Unismuh Makassaar pimpinan cabang kota makassar priode 2021-2022.

Saya Rifaldi (Ketua Pikom IMM Faperta) menyatakan keberatannya mengenai pembentukan KORKOM Unismuh Makassar yang dinilai sebagai kesalahan fatal PC IMM Kota Makassar.

Pimpinan Cabang IMM Kota Makassar seharusnya mengkoordinasikan perihal pembentukan ketua KORKOM kepada setiap perwakilan komisariat. Namun kami di komisariat Faperta, FKIP, dan Teknik tidak pernah mendapatkan undangan dari Ketua Bidang Organisasi PC IMM Kota Makassar perihal ini. Dan tiba-tiba mendapatkan informasi bahwa saudara Agus terpilih sebagai ketua KORKOM Unismuh Makassar. Padahal, berbicara tentang pembentukan KORKOM haruslah menjadi agenda untuk seluruh komisariat. Karena ini menyangkut tentang keberlangsungan masa depan kami di komisariat Unismuh Makassar, khususnya Pikom Faperta, FKIP, dan Teknik.

Selain itu, perihal penunjukan Korkom yang tak sesuai Kaidah yuridis kelembagaan, prinsip etis yang juga di sepelekan ialah ketua Korkom yang terpilih (agus) bukan lagi mahasiswa aktif (S1) Unismuh Makassar. Hal ini yang dianggap kurang etis secara kelembagaan. Selain itu pula, kepengurusan ketua Zulfikran dkk, dianggap tidak edukatif dalam bersosial media. Bagaimana tidak, ucapan provokatif dan tidak meneduhkan, serta dianggap tak etis sebagaimana seorang pemimpin. Dan juga, cukup primordialnya mereka dalam mengawal Pimpinan komisariat menjelang beberapa bulan kepemimpinannya. Bagaimana tidak, koordinasi dan komunikasi tidak transparansi kepada komisariat menjadi hal yang banal dalam organisasi.

Dan terakhir, efek domino dari semua ini, hal yang juga menjadi keresahan ialah, 25 komisariat yang katanya definitif tapi nyatanya masih ada beberapa komisariat yang mati Suri sampai saat ini.. Semoga kita semakin waras dalam berlembaga, dan catatan ini sebagai manifestasi kesadaran kolektif dan bahan kontemplatif bagi kita semua.. Fastabiqul khaerat.(*)

Penulis: Rifaldi Gunawan (Ketua Umum Pikom IMM Faperta Unismuh Makassar)