Tomakaka Sang Pemangku Adat Masyarakat Suku Pattae

Mengenal Arti Tomakaka dalam masyarakat pattae
Photo bersama pemangku adat dan kepala desa Batetangnga dari samping kanan, H. Hasan Dalle (ketua Lembaga Adat Batetangnga), H. Majid (anggota Lembaga Adat), Muh. Said (kepala Desa Batetangnga), H. Abd. Muttalib (Anggota Lembaga Adat). Foto: Achi Proletariat

Tomakaka tentu menjadi sebuah keharusan bagi masyarakat etnis Pattae yang masih menjunjung tinggi dan menjalankan norma-norma adat istiadat etnis Pat

Jauh sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia Serikat (RIS) 1945. Sudah ditemukan bentuk, dan struktur masyarakat adat di berbagai wilayah Nusantara yang masih berlaku hingga sekarang.

Dalam masyarakat etnis Pattae, struktur masyarakat adat ini, dikenal dengan“Tallu Lipu” (Tiga Pilar) salah satunya disebut Tomakaka. Mungkin masih banyak orang yang tak mengetahui siapa yang dimaksud, bagaimana ia dilantik, dan siapa yang berhak melantik.

Pada artikel ini, penulis fokus pada satu pembahasan Tomakaka. Struktur masyarakat adat ini, berfungsi menangani perkara sosial, batas-batas wilayah, serta ekonomi dan adat istiadat masyarakat Pattae. Berikut ini, penulis mencoba menjelaskan dari berbagai sumber agar lebih mengenal sang tetua adat.

Mengenal Arti Tomakaka

Tomakaka, berasal dari dua suku kata yaitu, “To” dan “Kaka”. “To” dalam bahasa etnis Pattae berarti suatu kata tunjuk seseorang. Adapun arti kata “Kaka” yaitu, sebagai panutan. Jadi Tomamaka  dapat diartikan sebagai orang yang menjadi panutan / penentu dalam satu masyarakat adat.

Menjadi Tomakaka tidaklah sembarang orang, ia harus memenuhi syarat adat yang ditentukan (Baca: Syarat menjadi tetua adat Pattae).

Setelah memenuhi syarat tersebut diatas, barulah kemudian dilantik secara adat. Pelantikan ini dilakukan oleh panitia adat yang dalam masyarakat Pattae disebut Ana’ Pattola Wali.

Dihadiri Imang (Tokoh Agama), Kapala (Pemimpin Kampung) dan masyarakat adat. Barulah kemudian dilakukan pelantikan dengan mengucapkan ikrar/sumpah. Berikut sumpah yang di ucapkan Ana’ Pattola Wali kepada Tomakaka saat pelantikan berlangsung.

“Tumeteko Ditetean Mallampu’, Mattulako dio Tula’ Makkeada, Ma’gaukko dio Gauk Disenga, Annassabai; Lolong Wai. Miccollikki Kaju. Kirambu-rambui Apinna Pabanua”.

“Melangkahlah dijalan yang benar, Berucaplah dengan sebenar-benar ucapan,  Berprilakulah dengan meninggalkan kesan yang baik, Sehingga menyebabkan; Rejeki terus mengalir, Kehidupan masyarakat terjaga. Masyarakat tak ada yang kelaparan”.

Setelah ikrar pelantikan telah di ucapkan. Ana’ Pattola Wali, Kemudian memperkenalkan sang pemangku adat yang baru dilantik kepada masyarakat dengan mengucapkan:

“Pakkitami Mai, Pinnassai Tongan-tongan, Iyamo Te’e Tommala Jujung Bunga Uttandere Katonganan”

“Lihatlah, dengan sejelas-jelasnya, inilah (Tomakaka) yang mampu menjalankan tugas dan fungsi dengan sebenar-benarnya”

Setelah Ana’ Pattola Wali mengucapkan kalimat diatas, lalu kemudian giliran sang pemangku adat yang baru dilantik memperkenalkan diri dengan mengucapkan:

“Pakkitami Mai, Pinnassai Tongan-tongan Mattuka Iyannamo Te’e Tommala Jujung Bunga Uttandere Katonganan”

“Lihatlah, dengan se jelas-jelasnya, inilah saya (Tomakaka) yang akan menjalankan tugas dan fungsi sebagai pemangku adat dengan sebenar-benarnya”

Setelah pelantikan dan perkenalan dilakukan, “Ana’ Pattola Wali”  kemudian memberikan satu simbol berupa “Kalosi” (Buah Pinang), “Daun Boulu” (daun siri). Kedua simbol tersebut kemudian diletakkan dalam satu wadah “Panne Bassi” (piring yang terbuat dari besi), kemudian di bungkus dengan kain berwarna biru.

Simbol inilah kemudian diserahkan oleh “Ana’ Pattola Wali” kepada “Tomakaka” untuk dijaga selama menjabat. Jika melanggar ikrar pelantikan, simbol tersebut dikembalikan ke Ana’ Pattola Wali.

wilayah kerja pemangku adat Pattae yaitu dapat meredam perkara dalam masyarakat adat, mengetahui batas wilayah, dan mengontrol perekonomian. (Baca: Wilayah Kerja Tomakaka).

Begitulah penjelasan singkat tentang Tomakaka, dan bagaimana ia dilantik. Semoga dengan adanya tulisan diatas ini, masyarakat Pattae, khususnya generasi pemuda Pattae dapat mengenalnya lebih dekat. [Pattae.com]

Penulis: Bustamin*

Jembatan Gantung Sungai Dara’ Kembali Ambruk