Topeng Corona Sambut Hari Kemerdekaan RI 75 Tahun

Topeng Corona Dabit. Foto Blantara*
Topeng Corona Dabit. Foto Blantara*

TOPENG CORONA | Senyum sumringah memancar dari wajah polos, usia anak yang masih belia, Dabit diusianya kian beranjak menuju ke angka 6 tahun. Yah, telah berbulan-bulan kehilangan riang bermain dan belajar di sekolah PAUD Bumi Indah.

Aku memandangi wajah polosnya, lumayan ganteng,meski giginya belum tumbuh semua, tiba-tiba saja bibir mungilnya terbuka.

“Saya rindu dengan teman-temanku, saya rindu bermain, saya rindu bertemu bapak ibu guru, “ ungkap Dabit sembari merapihkan Topeng Corona yang ia kenakan.

” Apakah corona tega melihat Dabit dan teman-temannya tidak ke Sekolah. Bolehkah Dabit dan teman-teman bertemu Corona dan mengusirnya pulang, “ tambah Dabit sembari membetulkan rantai sepedanya.

Sebentar lagi perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 75 tahun. Biasanya Dabit dan teman-teman sudah heboh mempersiapkan kegiatan pawai, bagaimana ibunya sibuk memilihkan kostum.

Namun semua hanya tinggal kenangan, tahun ini perayaan pawai sudah dipastikan tidak ada. Para tukang becak dan bentor juga akan bersedih. Sebab budget dan tawaran dikontrak, menghias becak dan bentornya dengan warna merah putih, untuk pawai pun sudah dipastikan tinggal kenangan.

Perayaan hari 17 Agustus 2020 atau HUT RI ke-75 ini pun sudah diatur dalam surat nomor B-492/M.Sesneg/Set/TU.00.04/07/2020 terkait Pedoman Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) Tahun 2020 sebagai pencegahan penularan COVID-19.

Betul-betul corona bagai momok yang menakutkan, hak-hak anak pun kian terpenjara karena virus ini. Pertanyaan dibenak menyelimuti hari-hari. Dabit telah dibelikan topeng corona, ini menjadi sugesti bahwa corona bukan main-main, ah, corona benar-benar ada.

Bisa jadi memasang topeng corona yang disebut face shield atau perisai wajah, mengundang riak-riak netizen lagi. Ah, secara psikologis juga tak hentinya kita diserang, pemberitaan angka pasien positif terus melonjak tinggi, bagai menaiki anak tangga.

Emosional pun beradu bagai perasaan sepasang kekasih yang kadang romantis, kadang galau dan kadang baper, ah bagai pula pementasan di atas panggung, teater telah berlalu, riak kritikan berdatangan, seiring regulasi sampai di tingkat desa pun, kian menjadi tontonan semata.

Portal-portal di desa terbuka lebar, tidak ada lagi tradisi mencuci tangan, saat melewati tapal batas desa, kelurahan, lingkungan, dusun, yah kini tinggal kenangan.

Namun, tanyaku dalam diam, sembari menyeduh kopi hangat bermerek Kopi Kampong. Alangkah lucunya ini corona, sontak membuat semua terkaget-kaget, dan pada saat sekarang ini, kejenuhan telah menyerang, santai-santai saja.

Angka positif terus menaik tiap harinya, lalu apa yang harus dilakukan, menaati keprotokoleran sah-sah saja, tapi regulasi kian mengendor.

Kornea mataku menyaksikan bambu pembatas desa, yang dijadikan  sarana portal hanya jadi pajangan, gentong-gentong cuci tangan pun entah lari kemana, sudah hilang.

Padahal sarana portal-portal di desa bagiku itu adalah upaya positif, seperti aku yang tak betah di rumah, gelisah terus ingin berjalan menjajaki belantara, mencari guru-guru kehidupan.

Persinggahan di portal-portal desa itu sangat efisien bagiku, kenapa tidak ya, itu dipertahankan, apa lagi di kawasan zona merah.

Zona hijau pun sebenarnya harus lebih diperketat pula, ah apakah ini memang sudah jadi kebiasaan. Kita hanya doyan momentum-momentum, sekadar mengisi draft laporan pertanggung jawaban lalu selesai, ataukah sebatas kebutuhan media sosial. Ah sudahlah aku pun tak berniat jadi artis.

Belakangan, beberapa orang juga mengenakan face shield atau perisai wajah sebagai pelindung saat beraktivitas di luar rumah. Face shield adalah alat pelindung wajah mirip perisai yang dibuat dari plastik. Dabit kawan cilikku menamainya Topeng Corona.

Ah, Dabit semoga saja dirimu betah memakai Topeng Corona, sebab hemat saya, kejenuhan anak-anak seusiamu pasti akan hadir menggoda.

Seiring terik matahari meninggi Dabit pun lengah, berlalu pelan-pelan, jam tidur sudah memanggil, hak raga mesti terpenuhi, tertidurlah dengan pulas kawanku, hingga mimpi-mimpi untuk kembali riang belajar, bersama teman-teman dan bapak ibu guru segera terwujud.

Tertidurlah kawanku, karena ketertindasan dan ketidakadilan terkadang kita temukan saat membuka mata.

Penulis: Blantara*