TPA Binuang Over Kapasitas Warga Pun Resah

TPA Binuang Over Kapasitas
TPA Binuang

Urusan sampah selalu menjadi hal penting untuk dikelola dengan baik. Ah, tentu tak hanya selesai dengan diskusi, apatah lagi sebatas simbol penghargaan. Piala Adipura sebagai penanda kota bersih, asri dan nyaman.

Sedikit kembali mengulik ingatan kita, apa yang melatar belakangi Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) ditetapkan tanggal 21 Februari?, tiap tahun bukan, para pemerhati lingkungan ramai membuat even perayaan HPSN.

Kita simak baik-baik yah..! Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Sebagai bentuk moril mengenang tragedi longsor sampah, di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat, peristiwa tragis itu terjadi pada tanggal 21 Februari 2005 lalu.

Musibah tersebut terjadi akibat longsornya gunung sampah setinggi 60 meter, dan sepanjang 200 meter, akibat guyuran hujan deras. Hal ini pun disebabkan karena tingginya konsentrasi gas metana, dari dalam tumpukan sampah.

Tragedi ini menelan korban jiwa sebanyak 137 orang dari 143 warga yang tercatat hilang di Kantor Kepala Desa Batujajar Timur, Batujajar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ditambah lagi longsoran sampah, telah menggenangi dua kampung yang berada di sekitaran lokasi TPA, yaitu Kampung Cilimus dan Kampung Pojok, Ah ngeri kan sejarah lahirnya HPSN.

Namun sepertinya permasalahan sampah tidak selesai-selesai juga, walaupun pemerintah telah menetapkan hari peringatan peduli sampah nasional. Tentu banyak faktor penyebabnya, selain dari tata kelola yang tidak baik, kesadaran semua elemen masyarakat dianggap sangat perlu. Amankan sampah masing-masing, meski berawal dari satu bekas puntung rokok, dan kantong kresek belanja anda.

Ah, memilih lokasi TPA membuat dilema juga, bisa jadi membuat baper kalangan pemerintah, sebab pastilah pro dan kontra muncul di kepala masyarakat. Siapa yang mau menghirup bau busuk sampah, yang kedua sampah dihasilkan sepertinya tidak pernah berkurang, yang ada malah semakin bertambah.

Coba kita jalan-jalan dan lihat kondisi TPA Binuang di Dusun Passube, Desa Paku, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman, Provinsi Sulawesi Barat. Sampahnya sekarang membentuk gunung, yah, gunung sampah, begitulah adanya sudah over kapasitas, warga pun resah dibuatnya.

Limbah dari sampah, airnya hitam pekat, bagai air kopi tumpah mengairi persawahan dan perkebunan warga, jangan ditanya bau dan lalat, di pemukiman warga. Jika angin berhembus ke laut, maka siap-siaplah aroma busuk tercium. Bahkan di masjid Dusun Passube jamaah sudah sering mencium bau busuk saat beribadah, bagaimana kira-kira jamaah bisa khusyuk?. Yah, kita yakin Allah SWT Maha bijaksana. Namun, sedianya masih ada ikhtiar manusia untuk berupaya, memberikan solusi penanganan si sampah ini, bukan lantas apatis.

“Saya resah karena bau sampah terbawa angin, itu menyengat jam 9 malam, lalat yang dihasilkan agak besar masuk ke perkampungan, masuk ke rumah lalat berukuran besar. Kalau orang kampung sini menyebutnya Lali Laulung (Induknya lalat), air berasal dari sumur bor. Kalau dua tiga hari diendapkan di wadah, maka hasil air akan berminyak. Truk pengangkut sampah  wadahnya juga sudah bocor, tentu meresahkan karena sampahnya jatuh-jatuh di jalan, mengotori jalan perkampungan,” ungkap Hilal, salah satu warga terdampak.

“Apalagi pada saat kami sementara berbuka puasa, Lalat Laulung ini datang, tentu mengganggu sekali, ada pun harapan saya, semoga pemerintah ada solusi. TPA bisa beroperasi, asal dikelola dengan baik, supaya pemerintah juga bisa menjalankan program penanganan kebersihan daerah kita. Masyarakat juga aman tidak tercemar akibat sampah. Saya ini warga biasa, jika bersuara hanya berani di pangka-pangka (diatas bale-bale bambu),” tambah Hilal.

TPA Binuang Over Kapasitas Warga Pun Resah

Lanjut dari warga terdampak kedua bersuara, “TPA kami tidak tolak. Hanya saja saat ini dampaknya bau busuk, sudah masuk di pemukiman. Yah, kalau pekerja dan pemulung disana tentu merasakan dampak positif karena mata pencahariannya. Kemudian dari awal tidak ada sosialisasi ke warga, TPA tiba-tiba langsung di buka saja. Sebaiknya, kalau kita mau buat TPA harus ada sosialisasi dulu ke warga, agar warga mengetahui seperti apa mekanisme TPA. Ada lebih 50 KK terdampak, pemulung mungkin ada 9 KK, mereka kesana karena inisiatif. Melihat ada sampah plastik yang bisa dijual,” ungkap Badi selaku tokoh masyarakat.

“Pasti ada pro kontra, pemerintah perlu mempertimbangkan dari sisi kemanusiaan, sampah itu harus kita perhitungkan ditangani baik-baik. Pihak terkait harus mengupayakan bagaimana sampah bisa terkendali. Tetapi, manusianya juga yang ada di sekitar TPA itu tidak kalah penting untuk dipikirkan, para petani di sawah juga mengeluh karena air limbahnya masuk ke persawahan. Sementara lahan kebun dan sawah di kampung kami ini produktif. Tidak ada jalan lain selain meminta pemerintah harus serius,” tegas Badi.

“Mewakili warga terdampak, mengharapakan dinas terkait betul-betul hadir, melihat bahwa kami butuhkan tata kelola yang baik. Sehingga, dampak ini tidak menimpa penghidupan warga, jika penutupan TPA ini sulit, kami butuhkan ada proses daur ulang sampah di TPA. Meski beberapa warga juga menginginkan TPA di tutup saja, karena sudah tidak tahan dengan bau. Adapun dampak ekologis, persawahan dan kebun terairi limbah sampah, para pemangku kebijakan. Para wakil rakyat yang duduk di parlemen, sedianya hadir melihat realitas TPA Binuang ini. Selama ini pemuda kami juga tidak tinggal diam, senantiasa turut berdiskusi dan berupaya mencari jalan solusi, agar pemerintah betul-betul memperhatikan dampak negatif TPA,” tutup M. Rasyid, selaku Kepala Dusun Passube.

Yah, semoga adanya daya pikir kritis warga terkait TPA, mampu membangun rasa kemanusiaan setiap elemen untuk hadir, baik dari unsur pemerintah maupun kalangan aktivis lingkungan. Jangan sampai menguras waktu, warga terus-menerus berpikir hingga dampak TPA semakin memburuk, jika tidak disentuh secara nyata penanganannya.