Ungkap Tiga Kasus, BNNP Sulbar Gagalkan Peredaran 81,72 Gram Shabu

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Barat (Sulbar) berhasil gagalkan peredaran gelap narkotika jenis shabu dengan barang bukti seberat bruto 81,72 Gram.

Jumlah tersangka yang berhasil diamankan sebanyak 5 orang dengan waktu dan lokasi yang berbeda.

Tersangka Ys diamankan di satu hotel di Mamuju dengan barang bukti narkotika jenis sabu seberat 0,84 gram yamg dikemas dalam 8 paket kecil pada Sabtu 13 Januari 2024 lalu.

Dari pengembangan dan pengejaran kasus tersebut, As juga diamankan dikediamannya di Menro Desa Watangpulu Suppa Kabupaten Pinrang.

Kemudian, pada Kamis 1 Februari 2024, BNNP Sulbar kolaborasi BNNK Polman menggerebek kediaman kakak beradik Hs dan Rs di Kecamatan Campalagian yang diduga sebagai tempat jual beli barang haram.

“Setelah Tim melakukan penyelidikan, kami segera menggeledah rumah tersangka dan menemukan barang bukti Narkotika Jenis Shabu seberat 55,52 Gram yang disimpan di speaker kecil,” Ujar Kabid Pemberantasan dan Intelijen BNNP Sulbar Kombespol Setyaningrum dalam press rilis di Kantor BNNK Polman, Senin (5/2/2024).

Keduanya ditangkap di tempat yang berbeda, HS ditangkap di kediamannya di Kecamatan Campalagian, Polman.

Sementara RS dijemput petugas di Lapas Kelas II B Polewali, Jl Elang, Kelurahan Pekkabata.

Pelaku Rs diduga mengendalikan pengedaran narkotika jenis sabu dari dalam Lapas Kelas II B Polewali.

Untuk pengungkapan kasus ketiga, tersangka RI diamankan di depan Jembatan Timbang Paku, saat melintas menggunakan mobil Suzuki Ertiga warna merah.

Tim menemukan barang terlarang disembunyikan di sandaran kursi tengah yang diduga narkotika jenis shabu seberat 25,34 gram.

“RI berhasil kami amankan setelah mendapat informasi dari masyarakat bahwa RI akan menjemput narkotika jenis shabu di Pinrang, sehingga kami berkordinasi dengan Sat Lantas Polres Polman untuk melaksanakan operasi pemeriksaan kendaraan dari arah pinrang,” Tuturnya.

Mereka memesan barang haram tersebut dari wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk masuk ke Polman, Sulbar.

Dijelaskan terungkapnya peredaran ini berawal dari adanya laporan masyarakat dan intelejen kemudian ditindaklanjuti.[*]