Mapala Reinkarnasi Turun Serta...

Sulawesi Selatan Tim Rescue Mapala Reinkarnasi Sulbar diterjunkan untuk membantu proses evakuasi korban pesawat...

Sertijab Sekwan DPRD Polman,...

Polewali Mandar Tongkat estafet kepemimpinan di Sekretariat DPRD Kabupaten Polewali Mandar resmi berpindah tangan....

Pengawasan Dipertanyakan, DPRD Polman...

Polewali Mandar Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Polewali Mandar berencana mengambil alih pengawasan...

KKN Multitematik PUMD UNASMAN...

Polewali Mandar Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Multitematik Universitas Al Asyariah Mandar (UNASMAN) menggelar...
HomeTravelingJejak SejarahCerita Pakkambi Tedong,...

Cerita Pakkambi Tedong, & Asal Muasal Desa Mammi

Terbentuknya suatu desa memiliki keunikan tersendiri, baik dilihat dari segi nama desa atau pun sistem adat. Di Binuang, Polewali Mandar, ada sebuah desa yang memiliki cerita unik dalam sejarah penamaannya, sebut saja kampung Mammi.

Kampung itu memiliki sejarah tentang cerita Pakkambi’ Tedong (Pengembala kerbau) yang menobatkan pertama kali nama kampung Mammi.

Setelah pattae.com melakukan wawancara kepada salah satu informan (2017), yang juga diketahui merupakan kapala Desa Mammi. Ia menemukan keunikan dari cerita sejarah penamaan desa Mammi.

Hal ini patut untuk dipublikasikan agar masyarakat lebih memahami dan menghargai cerita-cerita rakyat yang terdapat di daerah mereka masing-masing.

Banyak masyarakat Indonesia yang tidak memahami atau mengetahui tentang sejarah lokal di daerah masing-masing. Hal ini di sebabkan minimnya pengetahuan tentang sejarah lokal di wilayahnya. Misalnya, sumber untuk mengetahui sejarah lokal sedikit, banyak saksi sejarah sudah pikun atau meninggal, dan adanya pendatang dari luar.

Sejarah asal muasal nama dan terbentuknya desa Mammi ini dikutif langsung dari hasil wawancara crew pattae.com dengan kepala Desa Mammi Sulaeman. Wawancara ini dilakukan saat di sela-sela kegiatan MUBES pemuda Mammi di Balai Desa Mammi, Selasa 5 Juli 2017.

Asal Mula Nama Kampung Mammi

Mammi merupakan salah satu nama Kampung/Desa yang penduduknya mayoritas dari suku Pattae. Kata Mammi sendiri berasal dari bahasa Pattae yang bisa diartikan enak, lezat, dan nikmat. Sejarah penamaan kampung ini sangat unik karena nama Mammi berawal dari seorang pengembala hewan ternak, dalam bahasa suku pattae, hewan itu disebut Tedong (kerbau).

Dulunya, masyarakat Mammi senang memelihara kerbau (Tedong), yang sudah turun temurun dilakukan suku pattae. Sebagai pengembala (Pakkambi Tedong), tentunya mencari tempat/wilayah yang menyediakan hamparan rumput sebagai santapan tedong (kerbau) mereka. Kampung Mammi lah yang menyediakan hamparan rerumputan tersebut.

Konon katanya, Orang dahulu suku Pattae Mammi, hidup di wilayah pegunungan To’long, dan memiliki banyak hewan ternak. Hewan ternaknya ini dikandangkan di daerah bala tedong (wilayah desa Mammi), dan tiap pagi hari, kerbau ini dilepas tuk mencari makanan sendiri.

Setelah masuk waktu sore, saatnya hewan ternak kerbau kembali kekandangnya, namun kerbau tersebut tak kunjung datang. Dalam hati si pengembala tedong pun bertanya-tanya, “kenapa Tedong saya belum tiba dikandang? Pasti ada yang enak-enak (mammi-mammi) disana (wialyah desa mammi) yang kerbau santap”.

Saat itulah, masyarakat dahulu menyebutnya sebagai kampung Mammi, atau wilayah yang terhampar rerumputan manis.

Sebelum masyarakat mendiami wilayah tersebut, Mammi dulunya merupakan bentangan rawa yang di tumbuhi rerumputan. Orang pertama yang mendiami dan mulai menetap, diyakini dari wilayah kampung Biru (salah satu kampung yang ada di desa Batetangnga), dan Tomakaka Penanian yang mengembangkan kampung Mammi tersebut sekitar tahun 1950-an hingga padat seperti sekarang.

Begitulah sepenggal cerita asal-muasal nama desa Mammi, dan lain halnya sejarah terbentuknya desa mammi, yang mungkin juga belum banyak orang mengetahuinya. berikut kisah singkatnya.

Terbentuknya Kampung Mammi

Pada awal-awal kampung Mammi dihuni masyarakat pattae. kampung tersebut belum berbentuk desa, masih disebut sebagai lingkungan Mammi yang mencakup wilayah Tandro dan sekitarnya. Umur desa Mammi masih terbilang sangat muda, meskipun Kampung ini sudah dihuni masyarakat sejak dahulu.

Pada Tahun 2002, Desa Mammi baru di Nobatkan sebagai Desa persiapan, dan Kapala desa pertama adalah Tomakaka Mammi, H. Abdul Rahim Ali, S.Ag., sampai pada tahun 2004.

Pada tahun yang sama, dengan semangat perjuangan warga Mammi menjadikan Mammi sebagai desa resmi akhirnya terkabulkan pada tahun 2004 secara definitif oleh pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dan Sulaeman, S.Pd., menjadi kepala desa melalui pemilihan umum.

Sekarang ini tahun 2017, menurut kepala desa Mammi, Sulaeman, mengatakan jumlah warga desa Mammi mencapai angka 2 ribu jiwa penduduk, 20 persen diantara adalah beragama Nasrani, dan seluruhnya 80 persen beragama Islam. desa mammi memiliki luas 0,92 km2 atau 0,74 persen dari luas Kecamatan Binuang

Desa Mammi memiliki 4 wilayah/dusun yaitu dusun Mammi I, Mammi II, Macera, dan dusun Kayu Ranni. Meskipun terdapat perbedaan Agama, warga masyarakatnya tetap hidup rukun, saling membantu sebagai seorang manusia yang tak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

Get notified whenever we post something new!

spot_img

Kirim Tulisan Anda

Bagi anda yang ingin tulisan nya dipublis di laman pattae.com, silahkan kirim ->

Continue reading

Mapala Reinkarnasi Turun Serta dalam misi penyelamatan Korban Pesawat ATR 42-500 di Wilayah Pegunungan Bulusaraung

Sulawesi Selatan Tim Rescue Mapala Reinkarnasi Sulbar diterjunkan untuk membantu proses evakuasi korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di wilayah pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulbar, pada . Sebanyak 3 orang perwakilan dari Mapala Reinkarnasi Sulbar diantaranya Sihabudddin (Ketua Tim),...

Dari Polewali Mandar ke Nasional: Film Desa “PEOPLE” Catat Sejarah Baru

Polewali Mandar Desa Kuajang Lemo menorehkan pencapaian nasional melalui film pendek berjudul “PEOPLE”, yang resmi ditetapkan sebagai salah satu dari lima finalis Festival Film Desa Tahun 2025. Desa yang berada di Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat ini...

Rehab Jembatan Gantung di Lenggo Hampir Rampung, Akses Warga Segera Pulih

Polewali Mandar Rehabilitasi jembatan gantung sepanjang 60 meter di Desa Lenggo, Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, kini memasuki tahap akhir. Proyek karya bakti yang melibatkan prajurit Kodim 1402/Polman bersama masyarakat ini merupakan tindak lanjut arahan Danrem 142/Tatag, Brigjen...

Enjoy exclusive access to all of our content

Get an online subscription and you can unlock any article you come across.