Mapala Reinkarnasi Turun Serta...

Sulawesi Selatan Tim Rescue Mapala Reinkarnasi Sulbar diterjunkan untuk membantu proses evakuasi korban pesawat...

Sertijab Sekwan DPRD Polman,...

Polewali Mandar Tongkat estafet kepemimpinan di Sekretariat DPRD Kabupaten Polewali Mandar resmi berpindah tangan....

Pengawasan Dipertanyakan, DPRD Polman...

Polewali Mandar Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Polewali Mandar berencana mengambil alih pengawasan...

KKN Multitematik PUMD UNASMAN...

Polewali Mandar Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Multitematik Universitas Al Asyariah Mandar (UNASMAN) menggelar...
HomeTravelingBudayaMimala Pakka, Tradisi...

Mimala Pakka, Tradisi Suku Pattae yang Dilaksankan 10 Tahun Sekali

Mimala Pakka, adalah sebagian kecil dari banyaknya tradisi/budaya Indonesia yang masih dipegang erat masyarakat yang terhimpun dari keberagaman sukunya. Baik yang bersifat Pamali, maupun kepercayaan atau ritual-ritual tolak bala lainnya.

Polewali Mandar, salah satu daerah yang memiliki beragam suku/etnis, yang masih memegang erat tradisi nenek moyang mereka hingga kini. Sebut saja suku Pattae.

Suku Pattae, khusunya di daerah kampung Kunyi Kecamatan Anreapi, Polewali Mandar, terdapat tradisi turun temurun yang disebut “Mimala Pakka”. Tradisi ini merupakan warisan para leluhur suku Pattae (Aluk Todolo) yang ada di Desa Kunyi.

Proses ritual ini dilakukan sebagai bentuk tolak bala, agar terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan. Baik dalam kehidupan sosial, maupun menyangkut soal ekonomi masyarakat seperti dalam bercocok tanam. Masyarakat Pattae berharap agar terhindar dari berbagai macam jenis hama dan dilimpahkan hasil pertaniannya

Tradisi turun-temurun suku Pattae ini, tidak seperti tradisi lainnya. Khusus pada pelaksanaan ritual Mimala Pakka, dilakukan saat momen-momen tertentu saja yaitu 10 tahun sekali.

Berikut penjelasan singkat tentang apa itu Mimala Pakka yang hingga kini masih dipercaya dan dilaksanakan oleh masyarakat suku Pattae khususnya di Kampung Kunyi.

Apa itu Tradisi Mimala Pakka ?

Tradisi tersebut merupakan kebiasaan turun-temurun masyarakat Pattae yang menganut kepercayaan leluhur nenek moyang mereka (Aluk Todolo). Ritual ini bertujuan memberikan sesembahan kepada sang dewata (Tuhan) agar tanaman masyarakat nantinya, dapat terjaga dengan baik dan mendapatkan hasil yang melimpah.

Ritual Mimala Pakka juga diyakini sebagai bentuk pengakuan salah yang dilakukan masyarakat terhadap alam. Sehingga, dilakukan ritual tersebut sebagai permohonan ampunan kepada sang pemilik alam dan kehidupan (sang Dewata/Tuhan).

Bentuk salah yang dimaksud, yaitu saat kondisi produksi pertanian masyarakat mengalami penurunan. Dengan adanya kondisi tersebut, maka dilakukanlah ritual Mimala Pakka. Tujuan dilaksanakannya ritual tersebut agar nantinya, rezeki petani dari hasil produksi pertanian dapat melimpah.

Ritual Mimala Pakka masyarakat Pattae Kunyi, biasanya dilakukan 10 tahun sekali. Itu pun bila syarat dan ketentuan dilaksanakannya ritual sudah terpenuhi.

Bentuk pelaksanaan ritual ini sangat unik, sebab mengorbankan binatang ternak sebagai persembahan pada sang dewata. Berikut penjelasan singkat tentang bentuk pelaksanaan ritual yang dilakukan tiap 10 tahun sekali tersebut.

Bentuk Mimala Pakka

Bentuk Mimala (ritual meminta perlindungan pada sang dewata) tersebut, hampir sama dengan bentuk Mimala lainnya dalam tradisi masyarakat suku Pattae. Mulai dari prosesnya, hingga sebab dilaksanakannya.

Mimala Pakka sendiri dalam masyarakat suku Pattae, dikenal sebagai Ritual Mattallu Rara, dengan menyediakan persembahan darah dari tiga spesies hewan pada prosesi ritualnya. Hal ini menjadi pembeda diantara bentuk ritual Mimala lainnya yang dilestarikan oleh masyarakat suku Pattae.

Tiga jenis hewan ternak yang akan diambil darahnya berupa, Ayam, Anjing dan Babi. Ketiga darah hewan ini kemudian di masukkan kedalam wadah yang terbuat dari bambu menyerupai bentuk gelas namun agak memanjang.

Jenis Mimala dalam Masyarakat Suku Pattae

Jenis mimila lain yang sering dilaksanakan oleh masyarakat suku Pattae adalah Mimala Tondok. Mimala ini merupaka ritual meminta restu kepada To Mapakande Tomitongko (sang penunggu langit).

Bentuk Mimala yang lain disebut, Mimala Mattamba Bulung. Ritual ini dilakukan saat tanaman kebun warga mulai tumbuh, atau di tandai dengan mulainya menguning tanaman Padi. Mimalaq Matamba Bulung ini dilaksanakan berterut-turut selama 3 Tahun.

Dari tiga Jenis tradisi Mimala (Pakka, Tondok, dan Mattamba Bulung ) masyarakat suku Pattae. Dimungkinkan, masih banyak jenis Mimala lainnya yang belum di perkenalkan ke publik. Sebab, ritual semacam ini banyak di tentang masyarakat karena dianggap musyrik (menduakan Tuhan).

Bila ingin menelisik lebih jauh ritual-ritual tersebut, pembaca baiknya mendatangi langsung masyarakat suku Pattae di bagian pedalaman. Agar mendapatkan informasi secara lengkap. Disini, penulis hanya menyajikan informasi awal mengenai ritual aluk todolo suku Pattae.[*]

Get notified whenever we post something new!

spot_img

Kirim Tulisan Anda

Bagi anda yang ingin tulisan nya dipublis di laman pattae.com, silahkan kirim ->

Continue reading

Mapala Reinkarnasi Turun Serta dalam misi penyelamatan Korban Pesawat ATR 42-500 di Wilayah Pegunungan Bulusaraung

Sulawesi Selatan Tim Rescue Mapala Reinkarnasi Sulbar diterjunkan untuk membantu proses evakuasi korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di wilayah pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulbar, pada . Sebanyak 3 orang perwakilan dari Mapala Reinkarnasi Sulbar diantaranya Sihabudddin (Ketua Tim),...

Dari Polewali Mandar ke Nasional: Film Desa “PEOPLE” Catat Sejarah Baru

Polewali Mandar Desa Kuajang Lemo menorehkan pencapaian nasional melalui film pendek berjudul “PEOPLE”, yang resmi ditetapkan sebagai salah satu dari lima finalis Festival Film Desa Tahun 2025. Desa yang berada di Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat ini...

Rehab Jembatan Gantung di Lenggo Hampir Rampung, Akses Warga Segera Pulih

Polewali Mandar Rehabilitasi jembatan gantung sepanjang 60 meter di Desa Lenggo, Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, kini memasuki tahap akhir. Proyek karya bakti yang melibatkan prajurit Kodim 1402/Polman bersama masyarakat ini merupakan tindak lanjut arahan Danrem 142/Tatag, Brigjen...

Enjoy exclusive access to all of our content

Get an online subscription and you can unlock any article you come across.