Mapala Reinkarnasi Turun Serta...

Sulawesi Selatan Tim Rescue Mapala Reinkarnasi Sulbar diterjunkan untuk membantu proses evakuasi korban pesawat...

Sertijab Sekwan DPRD Polman,...

Polewali Mandar Tongkat estafet kepemimpinan di Sekretariat DPRD Kabupaten Polewali Mandar resmi berpindah tangan....

Pengawasan Dipertanyakan, DPRD Polman...

Polewali Mandar Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Polewali Mandar berencana mengambil alih pengawasan...

KKN Multitematik PUMD UNASMAN...

Polewali Mandar Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Multitematik Universitas Al Asyariah Mandar (UNASMAN) menggelar...
HomeTravelingBudayaTradisi Mangngonggo Masyarakat...

Tradisi Mangngonggo Masyarakat Pattae dan Musim Buah

Tradisi Mangngonggo masyarakat Pattae, biasanya dilakukan saat musim buah tiba. Pada tradisi tersbut, Masing-masing warga mengumpulkan hasil panen buah yang berkualitas.

Masyarakat suku Pattae’ yang hidup di bagian barat pulau Sulawesi, dikenal bukan hanya memiliki musim hujan, kemarau, dan musim kawin. Ada juga musim yang disebut musim buah-buahan.

Musim buah-buahan diwilayah tersebut biasanya, tiba saat terjadinya proses transisi, antara berahkirnya musim kemarau dan datangnya musim hujan. Kira-kira seperti itu.

Datangnya musim buah, tentu menjadi kesyukuran tersendiri bagi sebagian besar masyarakat Pattae. Salah satu bentuk kesyukuran datangnya musim buah, bagi masyarakat Pattae, yaitu dikenal dengan tradisi â€śMattammu Buah” atau ucapan rasa syukur, sekaligus menyambut datangnya musim buah-buahan.

Selain tradisi â€śMattammu buah”, ada juga tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Pattae setiap kali musim buah tibah, dan biasanya dilakukan pada pertengahan atau penghujung musim buah. Tradisi tersebut, oleh masyarakat Pattae disebut sebagai â€śOnggo” atau â€śMangngonggo”.

Apa itu Tradisi Mangngonggo ?

Tradisi Mangngonggo adalah sebuah istilah masyarakat Pattae pada zaman kekerajaan, yaitu â€śOnggo” yang artinya adalah suatu pemberian upeti kepada penguasa atau Raja.

Kemudian, istilah ini berganti makna menjadi suatu sedekah dari hasil panen buah, pasca sistem upeti dihentikan oleh pihak kerajaan Binuang.

Baca juga: (Terdapat Dua Versi Sejarah Terbentuknya Kampung Kanang).

Menurut para Tomakaka, pada masa kekerajaan Binuang, â€śMangngonggo” atau â€śOnggo” terdapat dua macam bentuk.

Pertama merupakan bentuk rasa syukur kepada sang Khaliq (Dewata) yang memberikan rezeki buah, â€śOnggo” ini disebut sebagai â€śOnggo Baca”. Bentuk tradisi ini sudah tidak dilaksanakan pasca masuknya pengaruh-pengaruh Islam.

Bentuk Kedua, disebut sebagai â€śOnggo Kasiwan”, yaitu pemberian kepada sang Raja sebagai bentuk sedekah atau bahasa orang pattae â€śMassidakkah” dari hasil panen buah.

Meskipun sudah sedikit berubah, kebiasaan turun-temurun ini masih berlaku hingga sekarang. Ketika musim buah tiba, Tradisi ini akan dilakukan ketika ada kegiatan besar desa, atau masyarakat kedatangan tamu kehormatan dari luar seperti Bupati, Gubernur, dan tamu kehormatan lainnya.

Bagi masyarakat yang memiliki reziki buah-buahan yang melimpah di kebun-kebun warga, maka sudah sepatutnya, atau berhak memberikan sedikit rezekinya (Mssidakkah) dalam kegiatan â€śMangngonggo”.

Tradisi â€śMangngonggo” ini tidak berlaku bagi semua masyarakat Pattae. Hal ini hanya di berlaku untuk masyarakat yang mendapat rezeki berupa buah-buahan disetiap musim buah tibah, itu pun tidak ada paksaan.

Karena kegiatan ini telah mendarah daging atau sudah menjadi tradisi turun temurun masyarakat suku Pattae. Kegiatan â€śMangngonggo” pun terus dilakukan untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai adat suku Pattae.

Begitulah penjelasan singkat tentang adanya tradisi â€śOnggo” atau â€śMangngonggo” yang berkaitan dengan musim buah-buahan. Jadi, mari kita menikmati dan mensyukuri karunia tuhan yang telah diberikan diatas tanah Pattae yang Mala’biq.(*/)

Sekian, wassalam.!

Get notified whenever we post something new!

spot_img

Kirim Tulisan Anda

Bagi anda yang ingin tulisan nya dipublis di laman pattae.com, silahkan kirim ->

Continue reading

Mapala Reinkarnasi Turun Serta dalam misi penyelamatan Korban Pesawat ATR 42-500 di Wilayah Pegunungan Bulusaraung

Sulawesi Selatan Tim Rescue Mapala Reinkarnasi Sulbar diterjunkan untuk membantu proses evakuasi korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di wilayah pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulbar, pada . Sebanyak 3 orang perwakilan dari Mapala Reinkarnasi Sulbar diantaranya Sihabudddin (Ketua Tim),...

Dari Polewali Mandar ke Nasional: Film Desa “PEOPLE” Catat Sejarah Baru

Polewali Mandar Desa Kuajang Lemo menorehkan pencapaian nasional melalui film pendek berjudul “PEOPLE”, yang resmi ditetapkan sebagai salah satu dari lima finalis Festival Film Desa Tahun 2025. Desa yang berada di Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat ini...

Rehab Jembatan Gantung di Lenggo Hampir Rampung, Akses Warga Segera Pulih

Polewali Mandar Rehabilitasi jembatan gantung sepanjang 60 meter di Desa Lenggo, Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, kini memasuki tahap akhir. Proyek karya bakti yang melibatkan prajurit Kodim 1402/Polman bersama masyarakat ini merupakan tindak lanjut arahan Danrem 142/Tatag, Brigjen...

Enjoy exclusive access to all of our content

Get an online subscription and you can unlock any article you come across.