Tradisi Mappadendang, Cara Unik Warga Polman Rayakan Pesta Panen

Tradisi Mappadendang adalah suatu tradisi warisan leluhur yang masih dilestarikan hingga kini, biasanya dijumpai pada perayaan pesta panen. Hal serupa juga dilakukan masyarakat kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Rabu (03/04/2019).

Tradisi Mappadendang  merupakan perayaan pesta panen padi yang dilakukan masyarakat Pattae sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepada sang pencipta, karena mendapatkan hasil panen padi yang memuaskan.

Sejarah tentang Mappadendang dimulai sejak nenek moyang merasakan hasil panen padi yang melimpah dan dapat menjadi sumber kahidupan yang perlu disyukuri.

Hapi’, atau biasa disapa Pua Baco mengatakan, “Saya ini melaksanakan pesta panen dirumah adat, karena saya selaku ketua adat Tandakan.  Jadi, saya mengundang semua masyarakat dan juga lingkungan lain seperti Tappina dan Passembaran”.

“Mappadendang dalam pesta panen selama ini kita laksanakan karena ada memang budaya adat namanya orang pattae itu mappadendang.” lanjutnya.

“Jadi ini termasuk tradisi dengan adat kampung yang setiap tahun kita laksanakan kegiatan ini, dan yang kedua, kami gali dari nenek moyang.” Tutupnya.

Tradisi Mappadendang membawa manfaat dan berkah karena menjaga persatuan dan kesatuan dalam masyarakat untuk menghargai padi sebagai sumber kehidupan bagi manusia untuk beraktivitas sehari hari.

Mappadendang juga sebagai salah satu motivasi bagi masyarakat untuk tetap giat dalam menggarap sawah demi hasil yang lebih baik lagi.

Salah satu masyarakat Tappina, H. Donde, menuturkanIni Mappadendang tradisional dulu, mulai nenek moyang kita (masyarakat Pattae).

“Jadi, ini memang harus di hargai, tidak bisa kita pandang enteng. Dalam satu tahun harus mengadakan persatuan dan kesatuan petani (untuk melaksanakan Tradisi Mamppadendang)”. Lanjutnya

“Siapa yang tidak menghargai padi, kira-kira dia tidak menghargai dirinya”. Tegasnya

Menceritakan sejarah lahirnya tradisi Mappadendang, begitu panjang. Namun, pada intinya kita harus menghargai hasil panen (padi) yang menjadi kebutuhan pokok manusia.    

“Sebenarnya masih panjang ceritanya kalau mau lebih dalam membahas tentang sejarah Mappadendang. Tapi pada intinya kita harus menghargai padi karena padi yang menghidupkan.” tambahnya.

Pelaksanaan Mappadendang dimainkan beberapa orang dengan membenturkan Alu (anak dendang) ke Lesung secara teratur. Sehingga, menghasilkan irama yang merdu didengar.

Acara pappadendangan, terkhusus setelah panen, kita merayakan suatu adat tradisional, mudah-mudahan acara kami ini dapat berjalan baik.” Ujar Ridwan selaku kepala lingkungan Tandakan.

“Bagi kami beserta orang tua (Masyarakat Tandankan), merasa bersyukur karena hasil panen kita tahun ini, Alhamdulillah bisa kita rasakan.”Lanjutnya

 “Harapannya semoga kita masih di beri berkah dan juga generasi muda dapat mempertahankan tradisi ini karena orangtua kita yang sudah lanjut usia akan ada generasi penerus yang sementara sedang belajar” Tutup Ridwan. (Pattae.com)*

Penulis : Ramlah*
Editor : Haslindah*

Tags
Show More

Ramlah

Nama Ramlah | Kontributor Media Pattae.com | Masih Kuliah di salah satu Kampus Swasta di Polewali Mandar | "Jika ingin mengenal dunia membacalah, dan jika ingin di kenal dunia menulis lah" | Email: [email protected]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Close
Close